WAJAH BARU SANG PAHLAWAN TANPA TANDA JASA


Nothing endures but changes bahwa tidak ada satupun yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi masyarakat saat ini. Kehadiran pandemi covid-19 di tengah-tengah masyarakat menghadirkan perubahan dan menjadi pendorong lahirnya kebijakan-kebijakan sebagai upaya untuk menyesuaikan tujuan dengan kondisi yang ada.

Pada dunia pendidikan, pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pembelajaran daring. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya agar dunia pendidikan tetap survive di tengah-tengah goncangan pandemi covid-19. Melalui pembelajaran daring, peserta didik dan pendidik melakukan proses belajar mengajar secara virtual dengan memanfaatkan berbagai aplikasi seperti google classroom, edLink, zoom, google meet, dsb.

Kebijakan tersebut merupakan solusi yang tidak lepas dari berbagai hambatan. Menilik kondisi beberapa pendidik saat ini yang masih bersifat resisten terhadap kemajuan teknologi. Hal ini menjadikan mereka tidak mampu beradaptasi dengan proses pembelajaran di tengah pandemi covid-19. Padahal jika ditilik pendapat Charles Darwin bahwa survival of fittest. Yang kuatlah yang akan bertahan.

Saat ini, pernyataan tersebut tidak diartikan bahwa yang kuat secara fisik yang dapat bertahan. Namun, kuat dalam artian kemampuan beradaptasi dengan keadaan. Oleh karena itu, dalam konteks dunia pendidikan, sangat dibutuhkan para pendidik yang memiliki sikap terbuka terhadap kemajuan teknologi. Pendidik sebagai garda depan dalam dunia pendidikan harus siap dan mampu untuk menyongsong berbagai kemajuan yang sangat pesat ini.

Para pendidik harus mampu tampil dengan wajah barunya yang selalu memupuk rasa haus akan ilmu pengetahuan dan memperkuat kompetensinya. Hal tersebut menjadi bekal bagi pendidik agar mampu memperkuat kemampuan dalam berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.    

Jika sebelumnya para pendidik tampil dengan wajah sebagai sosok yang sekedar mentransfer pengetahuan kepada para peserta didik. Saat ini mereka dituntut untuk mampu menciptakan suasana belajar yang menjadikan peserta didik sebagai pusat belajar (student centered), mampu memantik para peserta didik agar mampu mencari sendiri berbagai informasi, mampu memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran, dsb. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memerdekakan peserta didik dalam proses belajarnya. Agar mereka mampu memiliki keterampilan berpikir kritis, kreatif, bekerjasama, dan berkomunikasi yang baik untuk bekal mereka di abad-21 ini.

[Potret Kecil Dunia Pendidikan]

Jangan membenarkan yang biasa, tetapi mari membiasakan yang benar. Salam literasi.

Fawziah Zahrawati B

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Belas Kasih Tuhan

Teruntuk Marennu, Engkau Mengajarkan Banyak Hal