Di Balik Wajah Rasionalitas Masyarakat Modern


Masyarakat modern saat ini yang identik dengan kemajuan teknologi dengan mengagung-agungkan efisiensi merupakan jelmaan dari masyarakat mitos. Masyarakat yang dengan pengetahuannya berambisi menghancurkan mitos-mitos irrasional dan menggantikannya dengan rasionalitas. Melalui pencerahan, mitos-mitos tersebut digantikan oleh ilmu-ilmu alam dan cara berpikir positivistis.

Ilmu alam dan cara berpikir yang positivistis hadir sebagai pembebas atas mitos-mitos yang telah menguasai masyarakat sebelumnya. Kehadirannya mengiming-imingkan terwujudnya masyarakat manusiawi yang bebas dan merdeka. Namun, apakah hal tersebut betul adanya?

Berkaitan dengan hal tersebut, Adorno dan Horkheimer menyatakan bahwa cara berpikir positif dan ilmu-ilmu alam itu sendiri sebenarnya merupakan wajah baru dari sebuah mitos yang hadir dari mitos lama yang telah ditaklukkan.  Menurut mereka, baik ilmu alam maupun mitos merupakan cara-cara manusia menafsirkan alan dan kehidupannya sendiri. Oleh karena itu, di dalam mitos sebenarnya telah terdapat usaha manusia untuk memahami kenyataan secara rasional. Hanya saja berbeda dalam pendekatannya. Meskipun demikian, baik mitos maupun ilmu pengetahuan lahir dari kebutuhan dasar manusia yang sama yaitu untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya dengan mengusir ketakutan.

Menurut Adorno dan Horkheimer, perbedaan antara mitos dan ilmu pengetahuan hanya terdapat pada perbedaan dalam memahami kenyataan dan tidak dalam hal hakekatnya. Karena dalam hakekatnya antara keduanya adalah sama. Mitos merupakan pengetahuan yang rasional, tetapi pengetahuan rasional yang  bangkit di dalam mitos tak lain merupakan jelmaan dari mitos baru. Dengan demikian, keberhasilan manusia untuk memperoleh pemahaman rasional tentang realitas melalui pencerahan, sesungguhnya merupakan wujud kegagalan karena pengertian rasional itu segera surut menjadi mitos meski dalam wujud yang nampak lebih rasional.

Lanjutnya, dinyatakan bahwa rasionalitas sebenarnya berkembang di dalam sistem yang tertutup, sehingga keberhasilannya tak lain merupakan kegagalannya itu sendiri. Mitos dan rasio merupakan dua hal yang saling berdialektik. Mitos menghasilkan rasionalitas dan rasionalitas yang membebaskan dirinya dari mitos itu menjadi mitos yang baru.

Pada kenyataannya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan buah dari sebuah rasionalitas dengan tujuan untuk membebaskan manusia dari tuntutan untuk bekerja keras, nyatanya menjadi penguasa baru dalam masyarakat. Kebahagiaan dan kebebasan itu gagal terwujud dikarenakan ternyata ilmu pengetahuan dan teknologi itu bukannya mengabdi kepada manusia. Melainkan sebaliknya, manusia yang mengabdi kepada mesin-mesin ciptaannya sendiri.

Jika pada zaman Karl Marx kaum borjuis menindas kaum proletar, saat ini masyarakat yang menamakan dirinya masyarakat modern ditindas oleh sesuatu yang anonim, yaitu suatu sistem teknologi yang menyeluruh dan mencengkram segenap kenyataan alamiah dan sosial manusia. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari. Apa yang kita gunakan atau apa yang kita konsumsi, sesungguhnya bukan buah dari kebutuhan, melainkan karena keinginan semata. Keinginan yang tidak akan menemui titik akhirnya. Dan akan berujung pada terciptanya budaya konsumtif.

Dengan kemajuan teknologi, para kapitalis memproduksi benda-benda yang tidak dibutuhkan masyarakat, melainkan mereka memanfaatkan iklan untuk “merayu” masyarakat untuk membutuhkan benda-benda tersebut. Masyarakat menjadi generasi yang latah. Misalnya ketika bersepeda menggunakan sepeda lipat sebagai potret dari pola hidup sehat, maka masyarakat berbondong-bondong menjual sepeda lamanya dan menggantinya dengan sepeda lipat. Padahal, hakekatnya sama saja. Tujuannya sama yaitu berolahraga. Demikianlah eksistensi masyarakat modern yang mengklaim dirinya sebagai generasi rasional.

Referensi

Hardiman, F. B. (2004) Kritik Ideologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik Yogyakarta.



Jangan membenarkan yang biasa, tetapi mari membiasakan yang benar. Salam literasi.

Fawziah Zahrawati B

Komentar

  1. Unggahannya mengingatkan pada buku pengantar filsafatnya Frans Magnes Suseno dari UK Petra yang sempat saya baca pada tahun 95 dulu. Terutama dalam paparan kalimat dan diksinya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Belas Kasih Tuhan

Teruntuk Marennu, Engkau Mengajarkan Banyak Hal